Tuesday, November 23, 2010

Di Depanku, Sang Menteri dan Pengikutnya

Didepanku, Sang Menteri dan Pengikutnya
Didepan ku minum sang Menteri,
kepelikan aku memenuhi hati,
bukan rendah tapi tinggi,
itulah berpangkat yang dipandangi.


Ku merenung ke tanah air ku,
ada guru tiada diragu,
bahkan menteri itulah Tok Guru,
kedatangannya dirai, kehebatannya dicemburui.


Aku melihat sang menteri,
dimejanya pengampu memenuhi,
disekelilingnya anak muda tiada peduli,
kedatangannya tiada dirasai...


Ku merenung kebumi darah ku tumpah,
Ummi mengajar aku sedikit rempah,
supaya diri tiada menjadi sampah,
sembahan yang SATU hanyalah Allah..


Seruan utama dan berhasil hanyalah Dia Maha Besar,
Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar,
seruan gempita memberi sedar,
seruan agung semua manusia yang khabarnya sedar..


Dilahirkan Allahuakbar,
Bersolatan Allahuakbar,
Berhari raya Allahuakbar,
Disolatkan kematian Allahuakbar...


Tapi ajaib mendidik anak selain Allahuakbar,
Akademi hiburan menjadi akbar,
Tapi hairan menjadi orang besar,
Mahu diri diperbesarkan, bukan lagi Allahuakbar..


Seruan mereka, kesamarataan,
seruan mereka, keadilan,
seruan mereka, kebersihan,
seruan mereka, kebangsaan...
lalu membuka ruang perpecahan...


Muncullah, Hidup Melayu!!!
Timbullah, kebebasan bersuara!!!
Bergemalah, Daulat Tuanku!!!
Bergempitalah, Merdeka!!!
Bergegarlah, REFORMASI!!!!


semuanya lupa Allahuakbar...


Sedang kesamarataan Pembahaginya Allah,
Sedang keadilan Pengadilnya Allah,
Sedang kebersihan cintanya Allah,
Sedang kebangsaan bukan tali Allah,
Sedang pembaharuan sumbernya Allah,
Sedang semuanya terangkum dibawah Allah...


Seruan kami, Allahuakbar..
maka selamatlah Melayu,


Seruan kami, Allah Maha Besar,
Maka bebaslah penghambaan sesama manusia,
itulah sebenar kesamarataan,


Seruan kami, Allahuakbar,
Raja berdaulat raja beradat,
raja berjiwa rakyat tiadalah sedikit,
Raja membesarkan Allah sebagai Maharaja diantara segala maharaja jaranglah didapat..
itulah raja yang menggantikan gelagat,
tiada lagi Daulat Tuanku, yang ada Allahuakbar..


Raja yang ingat Allah,
Raja yang benar-benar berdaulat,
Raja yang selalu bertaubat..


Kami sayang Tuanku,
Allah selamatkanlah
Tuanku Sultan Muhammad kelima bagi negeriku.





Seruan kami, Allahuakbar,
Membebaskan manusia dari manusia,
Mengajak manusia tunduk pada Maha Besar,
Bukan tunduk kepada pembesar!


Seruan kami, Allahuakbar,
Mengajak manusia sebenar perubahan,
Menyeru manusia kepada penghijrahan,
Membawa manusia TRANSFORMASI sebenar!


Anak muda di'ter'abaikan,
Tua bangka dimanjakan,
Rokok sang tua aku kesakitan,
Gelagat segerombolan pembesar negarawan..





Anak muda hilang hormat,
Orang lemah hilang selamat,
Sang wanita hilang cermat,
apakah ini petanda alamat???


Hujan berhenti aku kan pulang,
pulang kerumah mencari peluang,
apakah ada pembesar terbilang??
sedangkan YB masih bergelindangan....


Mengharap Sultan Alauddin, datang melihat,
bagaikan Umar keluar meninjau,
rakyat derita tiada manfaat,
pelajar sengsara hilangnya berkat..


Aku tinggalkan bandar Temerloh,
dalam meninggal aku mengeluh,
Moga masa depan cerah nan ampuh,
Suara anak muda moga tersuluh...kerana..
didepanku, sang Menteri dan pengikutnya berpuluh...


melihat gelagat, hatiku hancur dan luluh...





Mohd Nuruddin Mohamed,
Menteri Kerajaan Diri,
Di Jabatan Allah Maha Besar,
Pekan Temerloh,
Mamak Old Town Cafe,
12.16am,
24 November 2010

1 comment:

-Abdul Rahman Fauzi- said...

Allah Allah Allah! Mantop! bakat terpendam...

Masa Itu Nyawa