Skip to main content

Menyebarkan Salam Berarti Menebar Cinta Kasih



Dari Abu Darda' ra. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Pada hari kiamat nanti Allah akan mem-bangkitkan beberapa kaum; di wajah mereka terdapat cahaya; mereka berada di atas mimbar-mimbar yang ter-buat dari permata. Orang orang ini kepadanya, padahal mereka bukan para nabi dan bukan pula syuhada."


Abu Darda' berkata, "Seorang Arab Badui tiba-tiba ber-lutut dan berkata, 'Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami sehingga kami dapat mengenali mereka.' Rasulullah saw. bersabda, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, dari kabilah dan negara yang berbeda-beda, berkumpul untuk melakukan dzikrullah.'" (HR. Thabrani dengan sanad Hasan)


Seorang muslim yang mempunyai dasar hati yang bersih ketika membaca hadits ini, dengan kehalusan perasaan dan kesadaran hati nurani, tentu takjub dengan anugerah ilahiah itu. Suatu anugerah yang hanya diberikan Allah kepada orang-orang tertentu; bukan para nabi dan bukan pula para syuhada, namun orang lain ingin sekali menjadi seperti mereka karena kedudukannya di sisi Allah swt. Sifat-sifat mulia yang dapat mengangkat derajat pemiliknya ini mampu menggerakkan perasaan seorang Badui, hingga la bertanya kepada Rasulullah saw. agar lebih mengenal mereka, tertarik, lalu mencintai mereka. Juga agar ia dapat membantu mereka dalam menegakkan kebenaran.


Rasulullah saw. menjelaskan, "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah, dari kabilah dan negara yang berbeda-beda, berkumpul untuk melakukan zikrullah." Rasulullah saw. telah memudahkan jalan untuk mereka, agar hati dapat bertemu dengan hati, ruh saling berpelukan, nurani terpaut dengan nurani, dan perasaan pun menjadi dinamis.


Inilah cara dakwah yang cerdas, yang dapat menjadikan hati orang-orang beriman berdebar-debar karena rindu dan ingin bertemu dengan saudara-saudara mereka tercinta. Alangkah agungnya perkataan orang Badui itu, "Wahai Rasulullah, sebutkan sifat-sifat mereka kepada kami sehingga kami dapat mengenali mereka."


Setiap kali Rasulullah saw. menjelaskan sifat-sifat mereka yang luhur dan akhlaknya yang tinggi, setiap kali pula kerinduan itu bertambah, sebagaimana dikata-kan dalam sebuah hadits. "Ruh adalah satu pasukan yang solid: yang saling mengenal akan saling terikat, yang saling mengingkari akan bercerai-berai."


Da'i yang terbimbing dengan pertolongan Allah senantiasa mendukung berbagai kebaikan, keutamaan, dan akhlak mulia, baik yang ada pada saudaranya sendiri maupun pada yang lain, sehingga ia sendiri menjadi penganjur dan penyeru kepadanya. Selain itu, ia gemar menyebutkan berbagai perilaku mulia yang sementara tersembunyi pada diri orang lain. Dengan itulah ia menjadi mediator yang mengantarkannya ke hati mereka.


Syair menuturkan:
Saya mencintainya sebelum melihat
Karena indahnya sifat yang disebut
Seperti surga yang dicinta
Karena keindahannya, meski belum diindra


-Jalan Menuju Hati-

Comments

Popular posts from this blog

Indahnya Bahasa India

Sekadar berkongsi beberapa patah perkataan bahasa India yang ku pelajari secara tak langsung dengan pesakit dan pekerja. Jika ada kekurangan dan kesilapan sila betulkan.


1- Siapa nama awak? = ope riina?
2- Nama saya.... = yenper....
3- Pergilah (untuk lelaki) = poodah
4- Pergilah (untuk perempuan) = poodii
5- Dah makan ke? = sapdiya...?
6- Dah makan dah = sipdaen
7- Jom makan = Bahsapdala
8- Jom minum = wa tanni kudigkelam
9- Awak tinggal di mana? = ni yengger kae ?
10- Baju = settae
11- Seluar = silwar
12- Mata = kanney
13- Telinga = kadhae
14- Kaki = kaali
15- Wajah = kaalai
16- Apa khabar? = na lam irking gele?
17- Apa khabar? (secara sopan) = sauriyema ?
18- Nenek = padti
19- Datuk = tata
20- Abang = anne
21- Kakak = akka
22- Pakcik = mama
23- Makcik = mami
24- Ayah = appa
25- Mak = amma
26- Dah minum ke belum ? = tanni kurchitia?
27- Belum lagi lah = inno illek
28- Tak ada = illek
29- Saya pergi dulu ya = poidtu ware’
30- Dah makan ke ? (sopan gitu) = sapdinlah...?
31- Dari mana ? = yinggere dhe?
32- Awak n…

Luahan hati seorang ibu...

Oh ibu..tidak terkata untuk menyatakan jasa ibu, 9 bulan ibu mengandung dengan berbagai dugaan dan cubaan. Ibu menempuh perit dan derita semasa melahirkan..! Semasa dalam pantang, ibu mengalami berbagai situasi yang tak terduga. Mengawasi diri sendiri, mendidik anak yang belum mengerti dan menjaga hati suami yang bukan semua boleh dikongsi. Hati seorang ibu yang cekal sukar dicari, sukar diganti.


Setiap ibu sanggup berkorban untuk anak-anak sedangkan anak belum tentu lagi. Kalau susah, biar ibu yang susah, anak jangan. Kalau ibu lapar, biar anak tidak lapar. Kalau ibu sakit anak jangan sakit. Kalau pakaian, biar anak cukup pakai, ibu tak apa. Kalau ibu sedih, hampir tercabut nyawa pun seboleh-bolehnya tidak diberitahu kepada anak-anak. Itu hanya secebis pengorbanan ibu.


Percayalah bila ibu sudah tiada, barulah anak terasa ketiadaan ibu dan hidup terasa kosong. Tiada tempat untuk mengadu. Kalau ibu ada, ibu buat itu, ibu buat ini, ibu cari itu, ibu cari ini. Ibu banyak boleh buat untuk a…

Rabbana Hablana Min Azwajina Wa Zurriyyatina Qurrota A'yun

Ha tu dio duduk. Jadi menunjukkan bbini ni perkara nikmat daripada Allah subhanahu wataala. Kita bekawin dengey ore ppuwe baik, ore ppuwe becaghi tok laki baik ini merupokey nikmat daripada Allah subhanahu wa taala. Ho bolehla we kalu nok gayo gayo ore ttino hok toksey ko demo gak kato; “ ai nikmat ni wey, nikmat Tuhey ni wey” dan oghe ttino tu pong kalu napok payoh payoh nga oghe jatey gak aa; nikmat ni aa.


Wa ma laha awliya’ahu bisuaali zalika fiddu’a’. Takdi dio ghoyak ceghito ceghito nabi. Nabi-nabi ni selain daripada Aku lantik jadi nabi, Aku buwi jugok anok-anok cucu, so. Selain pado nabi tuh pulok, hok peringkat woli-woli. Peringkat oghe hok bawoh sikit pado nabi, kito panggil woli-woli ni pong, Allah taala puji oghe-oghe hok jjadi woli Dio ni waktu woli Dio bedoa.


Dia tunjuk, doa gapo dio ? wallazina, wallazina yaquluna rabbana hablana min azwajina wa zurriyyatina qurrata a’yun. Ini doa hok Tuhey sediri apo ni rekod daley Quran. Kito lloni bulih guna doa ni. Di antaro tando o…